Bermula dari obsesi serta kenangan masa lalu. Semasa kuliah dulu (sekitar tahun 1998) pernah tamasya naik sepeda motor Suzuki Crystal yang 2 tak itu dari Jakarta - Bogor PP, jalur lewat Parung. Menyenangkan sekali walaupun capek. Terus ditambah baca-baca blog orang mengenai pengalaman touring sepeda motor, kok kelihatannya menyenangkan. Jadi kepingin.
Akhirnya tahun 2012 kemarin membulatkan tekad membeli Honda Tiger Revo, bekas tetapi harganya di atas pasaran karena memang dengan odometer/Km sekitar 1000 km-an. Km saya yakin asli, karena saya yakin memang orangnya dapat itu sepeda motor dari baru dan jarang dipakai. Obsesi karena dulu semasa kuliah bisanya cuma ngiler melihat Honda Tiger.
Motor si Macanku:
Ada beberapa alasan khusus lainnya kenapa pilihan saya jatuh di Honda Tiger, dan bukan di banyak motor laki lainnya yang ada di pasaran Indonesia saat ini. Moge jelas dicoret karena harganya terlalu mahal buat saya kalau hanya untuk pemuas hobi......
Honda Tiger menurut saya punya beberapa kelebihan saat ini:
- mesin sederhana, satu silinder, artinya perawatan mudah, relatif murah, bisa dilakukan di mana saja. Cita-citanya suatu saat saya bisa touring jarak jauh dan tidak perlu kuatir kalau ada kerusakan bisa dibetulin di bengkel mana saja. Cukup isi premium, ga perlu pertamax/plus
- masih double shock absorber, untuk kondisi jalan Indonesia yang mayoritas hancur, ini pilihan paling pas, dan nyaman untuk touring. Mono shock mungkin lebih stylish, tetapi jelas kalah peredamannya dibanding double shock untuk jalan rusak
- relatif tidak terlalu berat, misal bila dibanding sepeda motor Kawasaki tipe sport lainnya, tetapi masih sangat stabil untuk jarak jauh
- kapasitas mesin yang 200 cc lebih dari cukup kalau untuk touring di jalanan Indonesia. Perkiraan saya kecepatan ideal safe touring di sini 60 - 80 Km/h, dan di kecepatan ini mesin Honda Tiger masih nyaman. (kalau touring di USA sana yang jalannya lebar, mulus dan sepi jelas gak mumpuni).
- ring velg yang 18 inch, ingat...semakin besar diameter velg maka semakin nyaman untuk touring
- sudah double disc brake (depan dan belakang) jadi rem pakem dan simple perawatan
- rantai sudah silent-type, jadi rantai gak berisik
- masih harus nambah side bag, untuk bawa bagasi saat touring
- onderdil kata orang mahal.....ya relatif lah kalau dibanding onderdil motor bebek mungkin iya, tetapi coba bandingkan sama onderdil motor sport/touring sejenis, gak jauh beda
- .......
Saya merasa touring tidak seindah yang saya bayangkan sebelumnya. Apa pasal? Entah karena faktor U yang tidak bisa dibohongi, saya kok merasa tersiksa ya. Jalanan Parung, walaupun masih pagi sekitar jam 10an, sudah padat bener......di beberapa titik macet malah. Jadi dengan boncengan dan bawa sepeda motor laki, berat rasanya. Di bayangan saya sesuai kenangan adalah jalan yang agak sepi, sehingga bisa memacu kecepatan, santai. Ini boro-boro mau menikmati riding, malah terjebak macet......gerah keringetan, berat, emosi dengan ulah pengendara lain yang lupa hak pengguna jalan lainnya. Segala kelebihan dan kekurangan Tigi yang saya pikirkan dari awal mendadak gak berarti.
Walhasil, dari semenjak beli, itu Honda Tiger baru sekali itu dipakai touring, hehe.....paling sekali-kali dipakai ke kantor jarak dekat. Lebih banyak disarungin pakai cover di rumah. Obsesi saya tentang touring lintas Jawa, ataupun beli moge jadi hilang (Gak kebayang dengan Tigi aja segitu capeknya kalau macet, apalagi pakai moge.....pantes para pengendara moge itu jadi sok, mungkin karena uring-uringan kecapekan). Tinggal istri saya komplain karena dianggap buang uang.